Perjuangan Ibuk untuk Keluarganya
Judul Buku
: Ibuk
Pengarang : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Juni 2012
Harga Buku : Rp. 58.000
Editor : Mima Yulistianti
Tebal Buku : 298 halaman
Iwan Setyawan memang bukanlah
pengarang yang memiliki daftar karangan yang panjang, namun itu tidak
menyisihkannya dari kumpulan pengarang yang unik dan berpengaruh, seperti salah
satu buku fenomenalnya, yaitu ‘9 Summers 10 Autumns’. Ciri khas beliau
yang dapat dikatakan mudah untuk dikenali karena gaya penulisannya yang jujur apa adanya pun
dapat ditemukan dalam buku ini. Hal itulah yang saya dapat setelah membaca buku
karangan beliau yang berjudul ‘Ibuk’.
“Seperti sepatumu ini, Nduk.
Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti
kuat. Buatlah pijakanmu kuat.”
Begitulah ucapan ibuk kepada Bayek,
satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga 5 bersaudara tersebut. Memang, ibuk tidak berasal dari keluarga
berpendidikan, bahkan beliau tidak lulus SD. Nasib ibuk tidak berbeda jauh
dengan bapak, yang hanya sampai lulus SMP. Keduanya pun menjalani masa belia
mereka dengan bekerja di pasar, yang sekaligus menjadi tempat pertemuan mereka yang
pertama. Semua berawal dari tatapan sederhana, yang berlanjut menjadi perkataan
sederhana, dan berujung pada kalimat ijab kabul .
Walaupun dengan landasan pendidikan
yang tidak kokoh, hal tersebut malah menjadikan semangat bagi ibuk untuk
berusaha membina keluarganya sehingga bernasib jauh lebih baik dari dirinya.
Namun, perjuangan untuk mencapainya tidaklah mudah. Hal tersebut diketahui
pasangan suami-istri tersebut selepas melahirkan anak perempuan mereka yang
pertama. Biaya sekolah yang besar, rumah yang selalu bocor, sampai angkot yang
selalu mogok menjadi masalah yang mengelilingi keluarga tersebut. Hal tersebut
menjadikan ibuk berjuang lebih keras dengan memperkecil pengeluaran keluarga
hingga menggadaikan satu-satunya perhiasan yang dimilikinya. Namun, hal tersebut
mampu menumbuhkan hasil yang manis. Dimulai dari anak perempuan mereka yang
pertama dan kedua yang berhasil lulus S1, hingga Bayek yang menerima jalur PMDK
dari IPB.
Cerita terus berlanjut dengan
kekhawatiran ibuk terhadap Bayek yang akhirnya menjalani karier di New York sampai dengan
penyakit bapak yang tidak cukup sembuh. Pada akhirnya, ujian-ujian yang
diberikan oleh Tuhan membuat keluarga tersebut semakin kokoh dan memberikan pelajaran yang
tak terhingga bagi mereka.
Tidak banyak buku yang berhasil
mengangkat sebuah tema yang umum lalu menjadi buku yang fenomenal. Hal tersebutlah
yang menjadi keunggulan buku ini. Walau tema yang diusung adalah mengenai ibu
dari penulis, jalan cerita yang digunakan tidak terkesan menggurui ataupun
terlalu berlebihan sehingga pembaca dapat merelasikan dirinya dengan mudah
terhadap buku tersebut. Keunikan lain dari buku ini adalah jalan cerita yang berkutat di keluarga Bayek, namun dibenangmerahkan oleh ibuk
sehingga cerita tersebut dapat menjadi lebih luas tanpa berlari terlalu jauh
dari inti jalan cerita, seperti bagian tentang kehidupan Bayek di New York. Kemudian, sistematika penulisan yang rapih dan runtut
membuat cerita lebih mudah untuk dicerna.
Selain itu, bentuk fisik dari buku
‘Ibuk’ juga terlihat apik. Sampul yang disajikan juga berhasil mengilustrasikan
suasana kejawaan dan kesederhanaan dari sang ibu, dimana terdapat gambar dari
ibu yang sedang memasak dalam pawon. Begitupula dengan pewarnaan dari sampul yang memberi
warna kusam sehingga terlihat sederhana. Lalu, judul buku yang disajikan dalam font besar serta diakhiri dengan
tanda koma membuat pembaca tertarik terhadap buku tersebut, seakan ada
lanjutan yang misterius dibalik tanda baca tersebut.
Kelemahan-kelemahan yang saya
temukan dari buku ini adalah bagian-bagian cerita yang terkadang terasa cepat
serta transisi dari satu bagian ke bagian lain yang terasa agak kasar. Hal ini
berakibat pada sedikitnya materi penghubung dalam cerita tersebut sehingga dalam
membaca perlu sedikit kesabaran dan keseriusan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar