Senin, 31 Agustus 2015

Perjuangan Ibuk untuk Keluarganya

Judul Buku                   : Ibuk
Pengarang                    : Iwan Setyawan
Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                        : Pertama, Juni 2012
Harga Buku                 : Rp. 58.000
Editor                           : Mima Yulistianti
Tebal Buku                  : 298 halaman

Iwan Setyawan memang bukanlah pengarang yang memiliki daftar karangan yang panjang, namun itu tidak menyisihkannya dari kumpulan pengarang yang unik dan berpengaruh, seperti salah satu buku fenomenalnya, yaitu ‘9 Summers 10 Autumns’. Ciri khas beliau yang dapat dikatakan mudah untuk dikenali karena gaya penulisannya yang jujur apa adanya pun dapat ditemukan dalam buku ini. Hal itulah yang saya dapat setelah membaca buku karangan beliau yang berjudul ‘Ibuk’.

“Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.”

Begitulah ucapan ibuk kepada Bayek, satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga 5 bersaudara tersebut. Memang,  ibuk tidak berasal dari keluarga berpendidikan, bahkan beliau tidak lulus SD. Nasib ibuk tidak berbeda jauh dengan bapak, yang hanya sampai lulus SMP. Keduanya pun menjalani masa belia mereka dengan bekerja di pasar, yang sekaligus menjadi tempat pertemuan mereka yang pertama. Semua berawal dari tatapan sederhana, yang berlanjut menjadi perkataan sederhana, dan berujung pada kalimat ijab kabul.

Walaupun dengan landasan pendidikan yang tidak kokoh, hal tersebut malah menjadikan semangat bagi ibuk untuk berusaha membina keluarganya sehingga bernasib jauh lebih baik dari dirinya. Namun, perjuangan untuk mencapainya tidaklah mudah. Hal tersebut diketahui pasangan suami-istri tersebut selepas melahirkan anak perempuan mereka yang pertama. Biaya sekolah yang besar, rumah yang selalu bocor, sampai angkot yang selalu mogok menjadi masalah yang mengelilingi keluarga tersebut. Hal tersebut menjadikan ibuk berjuang lebih keras dengan memperkecil pengeluaran keluarga hingga menggadaikan satu-satunya perhiasan yang dimilikinya. Namun, hal tersebut mampu menumbuhkan hasil yang manis. Dimulai dari anak perempuan mereka yang pertama dan kedua yang berhasil lulus S1, hingga Bayek yang menerima jalur PMDK dari IPB.

Cerita terus berlanjut dengan kekhawatiran ibuk terhadap Bayek yang akhirnya menjalani karier di New York sampai dengan penyakit bapak yang tidak cukup sembuh. Pada akhirnya, ujian-ujian yang diberikan oleh Tuhan membuat keluarga tersebut semakin kokoh dan memberikan pelajaran yang tak terhingga bagi mereka.

Tidak banyak buku yang berhasil mengangkat sebuah tema yang umum lalu menjadi buku yang fenomenal. Hal tersebutlah yang menjadi keunggulan buku ini. Walau tema yang diusung adalah mengenai ibu dari penulis, jalan cerita yang digunakan tidak terkesan menggurui ataupun terlalu berlebihan sehingga pembaca dapat merelasikan dirinya dengan mudah terhadap buku tersebut. Keunikan lain dari buku ini adalah jalan cerita yang berkutat di keluarga Bayek, namun dibenangmerahkan oleh ibuk sehingga cerita tersebut dapat menjadi lebih luas tanpa berlari terlalu jauh dari inti jalan cerita, seperti bagian tentang kehidupan Bayek di New York. Kemudian, sistematika penulisan yang rapih dan runtut membuat cerita lebih mudah untuk dicerna.

Gaya bahasa sederhana yang digunakan juga menjadi ciri khas sang penulis yang membuat buku ini terasa lebih spesial. Penggunaan kata-kata yang sangat sederhana sehingga mudah dimengerti menjadikan cerita tersebut terkesan jujur dan apa adanya. Hal ini sesuai dengan cerita itu sendiri yang bercerita mengenai kesederhanaan dari keluarga tersebut.

Selain itu, bentuk fisik dari buku ‘Ibuk’ juga terlihat apik. Sampul yang disajikan juga berhasil mengilustrasikan suasana kejawaan dan kesederhanaan dari sang ibu, dimana terdapat gambar dari ibu yang sedang memasak dalam pawon. Begitupula dengan pewarnaan dari sampul yang memberi warna kusam sehingga terlihat sederhana. Lalu, judul buku yang disajikan dalam font besar serta diakhiri dengan tanda koma membuat pembaca tertarik terhadap buku tersebut, seakan ada lanjutan yang misterius dibalik tanda baca tersebut.

Kelemahan-kelemahan yang saya temukan dari buku ini adalah bagian-bagian cerita yang terkadang terasa cepat serta transisi dari satu bagian ke bagian lain yang terasa agak kasar. Hal ini berakibat pada sedikitnya materi penghubung dalam cerita tersebut sehingga dalam membaca perlu sedikit kesabaran dan keseriusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar